Email: info@amci.or.id

Berita

Indonesia Memiliki Jumlah ASEAN CPA Terbanyak dan Diprediksi Memperoleh Bonus Demografi, Kepala PPPK: Kuantitas Harus Dibarengi Kualitas

Indonesia Memiliki Jumlah ASEAN CPA Terbanyak dan Diprediksi Memperoleh Bonus Demografi, Kepala PPPK: Kuantitas Harus Dibarengi Kualitas

PPPK Kemenkeu

Sabtu sore di penghujung bulan Maret 2021 (27/03/2021), Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) mengajak para anggota dan pemangku kepentingannya untuk mengisi waktu akhir pekan mereka dengan kegiatan produktif bertajuk pendidikan profesional berkelanjutan (PPL). PPL gratis yang mengambil tema ASEAN CPA in Business Community ini diselenggarakan oleh IAMI bekerja sama dengan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), Kementerian Keuangan dan Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan disiarkan langsung melalui saluran YouTube IAMI.

Mengawali rangkaian acara, Wakil Ketua Umum IAMI, Agung Nugroho Soedibyo, yang juga bertindak sebagai pembicara, memberikan sambutan kepada seluruh peserta. Dalam sambutannya, Agung menyampaikan bahwa acara ini merupakan acara periodik yang menjadi program kerja dari AMCI yang kali ini diisi oleh IAMI. Pentingnya peran ASEAN CPA dalam komunitas bisnis di ASEAN menjadi latar belakang pemilihan tema acara, ASEAN CPA in Business Community.

Pada PPL tersebut, Kepala PPPK, Firmansyah N. Nazaroedin hadir sebagai keynote speaker. Dalam paparan utamanya, beliau menyampaikan perjalanan kerja sama Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Accountancy Services sejak berdirinya ASEAN pada tahun 1967 hingga ditandatanganinya kesepakatan MRA pada tahun 2014 di Myanmar. Salah satu bentuk kesepakatan dalam MRA adalah penyetaraan kompetensi dan keahlian para akuntan profesional yang telah memenuhi persyaratan di seluruh negara anggota ASEAN. Selanjutnya, para akuntan profesional yang telah memenuhi kualifikasi tersebut berhak mendapat sebutan ASEAN CPA (Chartered Professional Accountant). MRA ini merupakan peluang besar bagi para akuntan untuk dapat memperoleh kepastian hukum, bekerja, dan diakui secara setara di kawasan ASEAN.

Dari segi jumlah ASEAN CPA saat ini tercatat ada sebanyak 5.192 pemegang ASEAN CPA di ASEAN dan 1.900 diantaranya merupakan ASEAN CPA dari Indonesia. Pemegang ASEAN CPA di Indonesia merupakan yang terbanyak di ASEAN. Namun, jumlah tersebut masih sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah Akuntan Beregister yang terdaftar di Kementerian Keuangan. Perbandingannya hanya sekitar 8,6%. Oleh karena itu, PPPK terus memberikan dukungan dan membangun sinergi dengan asosiasi profesi akuntansi untuk meningkatkan jumlah pemegang ASEAN CPA dari Indonesia.

Melanjutkan paparannya, Firmansyah menyampaikan bahwa pada tahun 2020 hingga 2030 nanti Indonesia diprediksikan akan memperoleh bonus demografi, di mana Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang relatif lebih banyak. "Kuantitas yang memadai tidak akan ada artinya bila tidak diikuti dengan kualitas dan kompetensi yang memadai", sambung Firmansyah menanggapi kondisi tersebut. Beliau berharap Indonesia harus dikenal sebagai negara pengirim tenaga-tenaga profesional berkualitas ke luar negeri, dan akuntan profesional adalah salah satunya. Oleh karena itu, para pemegang ASEAN CPA harus memiliki nilai profesionalisme dan sikap yang terbuka.

Di akhir paparannya, Kepala PPPK mengajak para generasi muda yang akan berkiprah sebagai akuntan profesional, juga ASEAN CPA, agar dapat selalu memperbarui dan mengembangkan kompetensinya baik itu hardskill maupun softskill. Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, seorang akuntan profesional tidak cukup hanya menguasai kompetensi teknis saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan professional skill, professional values, ethics, and attitudes.

Pemaparan Materi Narasumber

Acara berlanjut dengan paparan materi dari ketiga narasumber PPL yaitu Agung Nugroho Soedibyo yang merupakan anggota AMCI, Michael Tjahjana selaku CFO China East Asia Pacific Renewable Energy General Electric, dan Haru Koesmahargyo sebagai Direktur Utama PT BTN (Persero) Tbk. Sesi paparan yang dilanjutkan diskusi dan tanya jawab tersebut dimoderatori oleh Ersa Tri Wahyuni, dosen FEB Universitas Padjadjaran sekaligus Dewan Pengurus Pusat IAMI.

Sebagai pemateri pertama, Agung memaparkan beberapa hal diantaranya mengenai ASEAN Economic Community (AEC), blueprint AEC, MRA on Accountancy Services, akuntan manajemen, dan traditional and new business dalam ASEAN business landscape. Agung menjelaskan bahwa MRA Akuntansi ASEAN dimaksudkan untuk mengeliminasi batasan-batasan dalam perdagangan jasa di antara anggota ASEAN serta untuk meliberalisasi perdagangan jasa dengan mengembangkan dan memperluas liberalisasi yang masih dalam koridor General in Agreement on Trade in Services (GATS). Ketika sepuluh pasar berubah menjadi satu pasar, maka terjadi perubahan-perubahan. Agung memaparkan penelitian Phillip Kotler, Hermawan Kertajaya, dan Hooi Den Huan, yang menjelaskan perubahan dari traditional business menjadi new business dalam beberapa aspek diantaranya market, scope of competition, strategic management, regulation, hingga growth strategy.

Pada sesi pemaparan kedua, Michael Tjahjana berbagi mengenai pentingnya sertifikasi dan manfaat sertifikasi profesional, dalam hal ini ASEAN CPA, dari sisi perusahaan (employers) dan pegawai (employee). Adanya profesional yang tersertifikasi di bidang akuntansi dalam suatu perusahaan merupakan hal yang penting untuk dapat menjalankan bisnis perusahaan dengan baik dan agar dapat menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas. Perusahaan berharap dengan adanya sertifikasi ASEAN CPA, dapat menciptakan suatu nilai laporan keuangan yang berintegritas dan andal. Sejalan dengan paparan utama dari Kepala PPPK, Michael menyampaikan bahwa tidak hanya teknikal kompetensi yang penting, tetapi juga softskill dan etika. Seseorang yang memiliki sertifikasi profesi akan dibekali dengan ethical business conduct, regulatory update, reliable business decision making processes, readiness for business dynamics, dll.

Dalam sesi paparan terakhir, Haru Koesmahargyo secara umum mengulas tantangan bagi profesional di industri perbankan dalam menghadapi digitalisasi dan persaingan dengan negara ASEAN. Haru berharap Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN, harus dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Oleh karena itu, kita perlu menyiapkan diri dari sisi teknologi dan literasi untuk dapat menghadapi tantangan digital. Menurutnya, akuntansi itu tidak melulu soal mekanikal, tetapi mengandung seni dan pertimbangan profesional. Hal-hal mekanikal dan repetitif mungkin saja tergantikan oleh mesin. Namun, dalam pengambilan keputusan tetap diperlukan pertimbangan profesional. Di akhir paparannya, Haru berharap agar para peserta aktif mengambil sertifikat ASEAN CPA. Sertifikasi dapat memberikan manfaat berupa kesempatan yang lebih besar dalam memperoleh pekerjaan, peningkatan keunggulan kompetitif, dan penunjang karier profesional. Tidak ada perusahaan (khususnya yang profit-oriented) yang tidak memerlukan peran akuntan, sehingga kesempatan terbuka luas.

Di akhir kegiatan, Ketua Umum IAMI, Gatot Trihargo menutup acara tersebut dan menyampaikan optimismenya bahwa ASEAN CPA akan semakin cerah terutama untuk Indonesia. Ke depan, market driven untuk Indonesia menjadi bangkit dan kesempatan para pemegang ASEAN CPA dapat berkiprah di negara-negara ASEAN akan menjadi sangat potensial.

Sumber: PPPK Kemenkeu

Share this post: